Yang pertama, tentu saja niat. Karena ibadah puasa terletak pada niat. Kalau kita memiliki niat yang kuat dan sungguh-sungguh, maka tidak ada persoalan melakukan ibadah puasa dalam kondisi apa pun. Apakah harga naik atau tidak, insya Allah kita dapat melaksanakan ibadah puasa dengan baik. Makin susah kondisi yang dirasakan seseorang, tetapi dibarengi dengan niat yang kuat, maka puasanya akan semakin khusyuk. Niat yang sungguh-sungguh, mampu meringankan ibadah puasa. Yang kedua, harus ada kemauan untuk meningkatkan kebersamaan dan solidaritas. Sesuatu yang berat, tapi bila dihadapi dengan solidaritas yang tinggi, maka akan menjadi ringan. Yang terpenting lagi, jangan sampai puasa itu sifatnya fisik saja, seperti lebih banyak mempersiapkan makanan dan materi lainnya. Justru yang harus dipersiapkan adalah keimanan dan ketakwaan. Selain itu, secara normatif kita harus memperbanyak melakukan hal-hal yang positif. Di dalam ibadah, berarti kita memperbanyak amalan, baik amalan yang ada hubungannya dengan Allah SWT maupun yang hubungannya dengan manusia, seperti membantu orang-orang yang kurang mampu apalagi situasi sekarang sedang susah. Yang kedua, berusaha menghindari hal-hal yang negatif. Jangan sekali-kali dalam bulan yang mulia ini, melakukan hal-hal yang negatif. Seperti anak-anak muda yang masih saja tergoda oleh miras dan narkoba. Sebisa mungkin hal-hal negatif seperti itu harus dihindari tak hanya di bulan suci Ramadhan, tapi juga di bulan-bulan lainnya. Yang terpenting dari itu, ibadah puasa menahan hawa nafsu. Jangan sampai kita mengikuti hawa nafsu. Puasa itu kan harus bersabar. Bersabar yang bagaimana? Secara sosial, apa yang harus dilakukan? Bila ada gagasan-gagasan yang bagus dari pemerintah, dimunculkan begitu saja tanpa ada sosialisasi ke tengah-tengah masyarakat seperti konversi minyak tanah ke gas maupun naiknya tarif tol yang sangat memberatkan, tidak bisa berjalan dengan baik. Mengapa? Karena mengubah suatu budaya tidak bisa dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Jadi itu, bukan sekadar pindah dari satu komoditas ke komoditas yang lain, tapi sebuah budaya yang perlu waktu lama. Artinya, dengan ibadah puasa mampu membimbing kita baik secara pribadi maupun pejabat atau pun pemilik modal untuk tidak semena-mena mengeluarkan suatu kebijakan yang membikin banyak orang susah? Kebijakan-kebijakan yang menyulitkan banyak orang, itu sama saja dengan tindak kekerasan modal! Hanya menguntungkan pemilik modal baik domestik maupun asing. Ibadah puasa itu justru membuat orang yang berada dan berharta, ikut merasakan kesulitan yang dirasakan orang tak punya. Tapi, kalau itu yang digagas pemerintah, saya kira itu tidak memaknai arti puasa yang sebenarnya. Mestinya, ibadah puasa menimbulkan rasa empati yang tinggi kepada orang yang miskin? Pemerintah itu kan juga orang dalam arti personifikasi hukum yang juga harus berpuasa seperti halnya umat berpuasa. Jadi, pemerintah harus banyak melakukan hal-hal yang positif selama di bulan Ramadhan, dan justru tidak boleh banyak melakukan hal-hal yang negatif termasuk menyengsarakan umat yang tengah menjalani ibadah puasa. Karena, dia (pemerintah) bagian dari kehidupan seluruhnya. Masyarakat dalam arti luas, ada negara, pemerintah dan masyarakat termasuk ada umat lain di luar umat Islam. Selama ini, umat lain cukup menghargai. Jadi, mestinya hikmah dan peran puasa harus dimaknai betul oleh umat maupun oleh masyarakat? Apa himbauan Kiai terhadap tayangan hiburan selama bulan suci Ramadhan? |


